Assalamu 'alaikum.

Menuntut Ilmu Itu Wajib Bagi Setiap Muslim.
(HR. Ibnu Majah no. 244)

19 November 2009

PUASA 6 HARI PADA BULAN SYAWAL

Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya (puasa) enam pada bulan Syawal, maka jadilah seperti puasa setahun." (HR. Muslim 782, dari sahabat Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu 'anhu).

Dengan berlalunya Ramadhan, tidak berarti berlalu pula amal ibadah. Justru, di antara tanda seorang berhasil meraih kesuksesan selama bulan Ramadhan adalah tampaknya pengaruh yang terus ia bawa pasca Ramadhan.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdilllah bin Baz rahimahullah :

Pertanyaan :
Bolehkah bagi seseorang memilih hari-hari tertentu pada bulan Syawal untuk ia melaksanakan puasa 6 hari. Ataukah puasa tersebut memiliki waktu khusus? Dan apakah jika menjalankan puasa tersebut menjadi wajib atasnya?

Jawab :
Telah pasti riwayat dari Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :
"Barangsipa berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa 6 hari pada bulan Syawal maka menjadi seperti puasa setahun." Diriwayatkan oleh Al-Iman Muslim dari kitab Ash-Shahih.

6 hari tersebut ditentukan selama satu bulan (Syawal). Boleh bagi seorang mukmin untuk memilih dari bagian bulan Syawal tersebut. Jika mau ia boleh berpuasa pada awal bulan, pertengahan bulan, atau pada akhirnya. Kalau mau ia boleh berpuasa secara terpisah-pisah, kalau mau boleh berturut-turut. Kalau bersegera melaksanakannya secara berturut-turut pada awal bulan (Syawal), maka yang demikian lebih utama. Sebab yang demikian termasuk bersegera dalam kebaikan. Dan dengan itu bukan menjadi kewajiban atasnya. Boleh baginya tidak mengerjakannya pada tahun kapanpun. Namun senantiasa melaksanakan puasa Syawal (setiap tahunnya) adalah afdhal dan lebih sempurna. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam :
"Amal yang paling Allah cintai adalah amalan yang pelakunya kontinyu/terus-menerus dalam melaksanakannya meskipun sedikit." (Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah XV/390-391).

Pertanyaan :
Apakah boleh berpuasa 6 hari Syawal sebelum melaksanakan kewajiban mengqadha' (membayar hutang) puasa Ramadhan?

Jawab :
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah tersebut. Pendapat yang benar adalah bahwa yang disyariat mendahulukan qadha' sebelum puasa 6 hari bulan Syawal dan puasa-puasa sunnah lainnya. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallahu 'alaihi wa sallam :
"Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka seperti puasa setahun." Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya.

Barangsiapa yang mendahulukan puasa 6 hari Syawal sebelum mengqadha' maka dia belum memenuhi syarat mengikutkan puasa 6 hari Syawal dengan puasa Ramadhan, tapi baru mengikutkannya dengan sebagian puasa Ramadhan.

Dan juga karena puasa qadha' adalah fardhu, sedangkan puasa 6 hari Syawal adalah tathawwu' (sunnah/tidak wajib) yang fardhu lebih berhak untuk dipentingkan dan diperhatikan. (Majmu'Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah XV/392).

Sumber http://www.assalafy.org/mahad/?p=366 dengan sedikit ringkasan.

22 Oktober 2009

Bersabarlah Menghadapi Cobaan

Ummu Al Alla' berkata bahwa Rasulullah mengunjunginya ketika dia sedang sakit. Beliau bersabda :
"Sesungguhnya dengan sakitnya seorang muslim, dapat menghilangkan dosa-dosanya, seperti api yang menghilangkan karat emas dan perak." (HR. Abu Dawud).

Meskipun nasehat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam disampaikan kepada Ummu Alla' namun sesungguhnya mengingatkan juga kepada kita, bahwa ketika seorang muslim di timpa musibah, sebenarnya dengan musibah itu Allah bermaksud menghapus dosa dan kesalahan-kesalahannya. Jika kita perhatikan, orang yang pandai mengambil hikmah dan pelajaran dari ayat-ayat dan nasehat itu adalah kalangan orang-orang yang sabar. Sebagaimana dijelaskan oleh ayat berikut :
"Dan orang-orang yang sabar di dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa." (Al-Baqarah : 177).

Di lain ayat Allah juga berfirman :
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar : 10).

Semua pahala itu diperuntukkan bagi orang-orang yang sabar menerima cobaan. Betapa tidak, karena pada prinsipnya seorang mukmin berhak menerima yang baik-baik.

Diriwayatkan dari Syuhaib radiallahu 'anhu bahwa Beliau Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
"Orang mukmin itu mengagumkan. Sesungguhnya setiap urusannya baik. Jika dia mengalami kesenangan, dia bersyukur, maka itulah kebaikan baginya. Jika ditimpa kesedihan, dia bersabar, maka baginya pun kebaikan.

Abu Hurairah radiallahu anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
"Cobaan selalu menimpa orang beriman, baik lelaki maupun perempuan, baik terhadap dirinya, anaknya maupun hartanya, sehingga dia menerima Allah dan tiada lagi kesalahan padanya." (HR. At-Turmidzi).

Dari Atha bin Abi Rabbah bahwa Ibnu Abbas radiallahu anhu pernah berkata kepadanya, "Apakah kamu mau jika kutunjukkan kepadamu wanita penghuni surga?" jawabnya "Aku mau." kemudian Ibnu Abbas menunjuk seorang wanita berkulit hitam seraya berkata, "Wanita inilah yang pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu berkata, "Sesungguhnya aku menderita sakit ayan, sampai-sampai kalau kumat auratku terbuka. "Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kemudian berdo'a untuknya. Selanjutnya bersabda, Jika kamu berkenan, bersabarlah dan surga untukmu. Jika kamu berkenan, aku akan mendo'akanmu semoga Allah menyembuhkanmu. ' Wanita ini berkata kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, 'aku bersabar. Sesungguhnya auratku pernah terbuka, maka berdo'alah agar tidak terbuka lagi.' Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kemudian berdo'a untuknya.

Tidakkah kita mendengar ucapan orang shalih, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kedukaanku.. (Yusuf : 86).

Maka jadikanlah Allah sebagai tempat mengeluh dan mengadu. Dialah Dzat Yang Maha Mulia untuk diminta dan paling dekat untuk di panggil.

Allahu Akbar.

Kepada Tetangga Masjid Dan Yang Mendengar Adzan

Dalil Al-Qur'an.

Allah berfirman :
"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'." (Al-Baqarah : 43).

Ayat di atas adalah dalil tentang wajibnya shalat berjama'ah dan keharusan menyertai orang-orang shalat. Seandainya yang dimaksud sekedar mendirikan shalat (bukan berjama'ah) tentu cukup dengan awal firman-Nya : "Dan dirikanlah shalat." tanpa ada "ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'."

Allah juga berfirman :
"Pada hari betis disingkapkan dan mereka di panggil untuk bersujud maka mereka tidak kuasa (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera." (Al-Qalam : 42-43).

Ka'b Al-Ahbar berkata, 'Demi Allah, ayat di atas tidak diturunkan kecuali bagi orang-orang yang meninggalkan shalat berjama'ah'.

Di lain ayat Allah juga berfirman :
"Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabat mu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu..." (An-Nisa' : 102).

Seandainya Allah tidak mewajibkan shalat berjama'ah, maka para pasukan yang terancam diserang musuh tentu lebih utama untuk diperkenankan meninggalkan shalat berjama'ah. Tapi kenyataannya, berdasarkan ayat di atas Allah tetap mewajibkan mereka shalat berjama'ah, walaupun dalam keadaan berperang (terancam diserang).

Dalil As-Sunnah.

Dari Abu Hurairah radiallahu anhu disebutkan, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
"Aku hendak memerintahkan shalat sehingga ia didirikan, kemudian aku memerintahkan seorang laki-laki agar menjadi imam shalat berjama'ah, kemudian aku pergi bersama orang-orang yang membawa seikat kayu bakar kepada kaum yang tidak menegakkan shalat berjama'ah sehingga aku bakar rumah-rumah mereka dengan api." (HR. Bukhori - Muslim).

Tidaklah beliau mengancam untuk membakar rumah kecuali karena ditinggalkannya suatu kewajiban.

Dalam Shahih Muslim disebutkan :
"Seorang laki-laki buta berkata, 'Wahai Rasulullah, aku tidak mendapatkan orang yang menuntunku ke masjid, apakah aku memiliki rukhshah (keringanan) untuk shalat di rumahku?' Nabi bertanya kepadanya, 'apakah engkau mendengar panggilan (adzan) untuk shalat?' Ia menjawab, 'ya'. Beliau bersabda, 'Maka penuhilah'."

Jika orang buta yang tidak mendapatkan orang yang menuntunnya wajib shalat berjama'ah, apalagi orang yang sehat, bisa melihat dan tak memiliki udzur?.

Dari Ibnu Abbas radiallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
"Siapa yang mendengar seruan (adzan untuk) shalat dan tidak ada suatu udzur pun yang menghalanginya (tetapi ia tetap tidak memenuhinya), niscaya shalat yang ia lakukan tidak diterima. Ditanya, 'Apakah udzurnya itu wahai Rasulullah?... Beliau bersabda, 'Rasa takut dan sakit'." (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, Shahihul Jami', 6176).

Dalil Perkataan Para Sahabat.

Abu Hurairah radiallahu anhu berkata:
"Penuhnya telinga anak Adam dengan timah yang mendidih lebih baik baginya daripada ia mendengar seruan (adzan) tetapi ia tidak memenuhinya."

Abdullah bin Umar radiallahu anhu berkata :
"Jika kami kehilangan seseorang laki-laki dalam shalat Shubuh dan Isya' maka kami bersangka buruk kepadanya." (Shahihut Targhib wa Tarhib, 411).

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, Abdullah bin Mas'ud radiallahu anhu berkata :
"Sungguh kalian telah menyaksikan bahwa tidaklah meninggalkan shalat berjama'ah kecuali orang-orang munafik yang nyata kemunafikannya. Dan dulu, sungguh pernah ada laki-laki yang dibawa ke masjid dengan dipapah dua orang dan didirikan di dalam barisan (shaf shalat)."

Perkataan Para Ulama.

Imam Nawawi, ulama dari kalangan madzhab Syafi'i berkata :
"Shalat berjama'ah adalah fardhu 'ain, tetapi tidak merupakan syarat sahnya shalat." (Al-Majmu' IV/75).

Imam Syafi'i rahimahullah berkata :
"Saya tidak menganggap ada rukhshah untuk meninggalkan shalat berjama'ah bagi orang yang mampu melakukannya tanpa ada udzur." (Al-Umm, I/154). Beliau juga berkata :
"Hendaknya anak-anak diperintahkan datang ke masjid dan berjama'ah agar terbiasa." (Al-Iqna' I/151).

Timbul pertanyaan :
Apakah wajib bagi wanita berjama'ah di masjid.

Jawab :
Wanita tidak diwajibkan berjama'ah di masjid, karena shalat yang utama bagi
kaum wanita adalah di rumahnya, namun apabila mereka hendak berjama'ah di masjid tidak boleh dilarang asalkan menutup seluruh aurat, tidak memakai wewangian.

Dari Zainab At-Tsaqafiah menceritakan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
"Jika seorang wanita diantara kalian mengikuti shalat Isya' (di masjid) maka janganlah ia berdandan malam itu".

"Jika seorang wanita diantara kalian datang ke masjid maka janganlah ia menyentuh (menggunakan) pewangi".

Kedua hadits di atas adalah (HR. Muslim dalam Shahihnya).

Wahai kaum muslimin, renungkanlah firman Allah dan sabda Rasul-Nya serta perkataan-perkataan para sahabat yang diberi petunjuk dan ulama-ulama yang berpegang teguh kepada Sunnah Rasul.

Dan janganlah menganggap remeh suatu urusan dalam agama padahal disisi Allah sangat penting.

"Kalian menyangkanya remeh, padahal hal tersebut dalam pandangan Allah adalah perkara penting". (An-Nur : 15)

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk menjalankan sunnahnya hingga akhir hayat. Amiin.

16 Oktober 2009

Propaganda Sesat

Pemikiran yang muncul di tengah-tengah masyarakat kita, bahwa semua agama sama adalah pemikiran yang sesat. Orang-orang akhirnya bebas menentukan agamanya serta berpindah-pindah bahkan berani membuat ajaran-ajaran baru dan sebagainya. Pernyataan ini tidak lain dilontarkan oleh sekelompok kaum liberal untuk mencampuradukan yang haq dengan yang batil, sehingga yang haram dan halal di buat menjadi samar-samar. Selain itu mereka berdalih bahwa itu kebebasan dalam memeluk agama serta merupakan hak asasi manusia.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam." (Ali-Imran : 19).

"Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Ali-Imran : 85).

Syari'at Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mencakup semua manusia seluruhnya.

"Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhoi Islam itu menjadi agamamu." (Al-Maidah : 3).

Islam dalam ayat di atas ialah dien (agama) Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa sallam. Karena pengangkatan beliau sebagai Rasul.

"Katakanlah : Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua..."(Al-A'raf : 158).

Oleh karena itu, seseorang yang tetap bertahan dengan agama-agama terdahulu, seperti Yahudi dan Nasrani atau lainnya, berarti ia menjadi orang yang ingkar kepada Allah, karena tidak berada di atas agama yang diperintahkan oleh Allah untuk diikuti yaitu agama Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Hai Rasul, sampaikam apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu." (Al-Maidah : 67).

Yang dijadikan pegangan oleh para pengusung pendapat bebas memeluk agama apa saja tanpa alasan yang haq yaitu :
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam." (Al-Baqarah : 256).

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
"Maksudnya surat Al-Baqarah ayat 256 yaitu, kalian jangan memaksa seseorang untuk memasuki Islam".

Maksudnya sangat jelas, tidak perlu memaksa seseorang masuk Islam. Akan tetapi, orang diberi petunjuk oleh Allah Azza wa Jalla, dan dilapangkan dadanya untuk menerimanya maka ia akan masuk Islam. Sedangkan orang yang dibutakan mata hatinya, pendengaran dan penglihatannya maka tidak ada gunanya memaksanya masuk Islam.
Karena barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya.

Orang yang telah sampai padanya dien lalu menolaknya, tidak menerimanya maka itu karena pembangkangannya. Allah Azza wa Jalla tidak membiarkan manusia tetap berada di atas agama kekufuran, kesyirikan dan menyimpang karena Allah juga menciptakan makhluk agar beribadah kepada-Nya semata. Sebagaimana firman-Nya :
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Adz-Dzariyat : 56).

Barangsiapa yang tidak mau beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, maka orang itu termasuk orang-orang yang merugi di dunia maupun di akhirat.

Demikianlah, kita memohon kepada Allah agar kita senantiasa mendapatkan hidayah-Nya dan memberikan kepada kita kekuatan untuk mengikutinya, serta menunjukkan bahwa haq itu adalah haq dan bathil adalah bathil.

11 Oktober 2009

Keutamaan Shalat Tathawwu'

Shalat tathawwu' berarti shalat tambahan di luar shalat fardhu yang lima waktu.
Shalat Tathawwu' terdiri dari dua macam :
Pertama : Tathawwu' mutlak.
Kedua : Tathawwu' muqayyad (terbatas), yaitu yang diberikan batasan dalam syari'at. Misalnya orang yang hendak melakukan shalat sunnah rawatib Shubuh, dia tidak bisa mengerjakannya, kecuali dua rakaat sebelum dan setelah masuk waktu shalat Shubuh dengan niat shalat rawatib Shubuh.
Pembahasan dalam artikel ini adalah tathawwu' muqayyad.

Keutamaan Shalat Tathawwu' telah disebutkan oleh hadits yang cukup banyak, diantaranya :
Dari Abu Hurairah Radiallahu 'anhu, dia bercerita, Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda :
"Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal perbuatan ummat manusia kelak pada hari kiamat adalah shalat." Beliau bersabda : "Allah Azza wa Jalla berfirman kepada malaikat-Nya dan Dia lebih mengetahui : lihatlah Shalat hamba-Ku, apakah dia menyempurnakan atau menguranginya?" Jika shalat yang dikerjakannya itu sempurna, akan ditetapkan sebagai shalat yang sempurna baginya meskipun dia melakukan sedikit kekurangan darinya. Allah berfirman : "Lihatlah, apakah hamba-Ku itu mempunyai ibadah tambahan?" Jika hamba itu memiliki ibadah tambahan, Dia akan berkata : 'Sempurnakanlah untuk hamba-Ku ibadah fardhunya dengan ibadah tathawwu'nya. Kemudian amal-amal itu diperhitungkan berdasarkan yang demikian itu." (Diwirayatkan oleh Ahmad dan empat penulis kitab as-Sunan).

Dilain riwayat Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda :
"Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah karena sesungguhnya tidaklah engkau bersujud kepada Allah sekali saja, melainkan dengannya Dia akan meninggikanmu satu derajat serta menghapuskan darimu satu kesalahan."(HR. Muslim dalam kitab 'ash-Shalaah, Bab 'Fadhlus Sujuud wal Hatstsu 'alaih4' no. 482)."

"Keutamaan Shalat-Shalat Sunnah Rawatib".

Diriwayatkan dari Ummu Habibah Radiallahu 'anha, isteri Nabi Shallallahu alaihi Wassalam dia bercerita, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda :
"Tidaklah seorang hamba Muslim mengerjakan shalat karena Allah dalam satu hari dua belas rakaat sebagai tathawwu' dan bukan fardhu, melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di Surga." (HR. Muslim).

Dalam riwayat at-Tarmidzi dan an-Nasa-i, kata (dua belas) ini di tafsirkan sebagai : "Empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat setelah Zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah Isya', dan dua rakaat sebelum Shubuh." (Hadits Shahih).

(1) Shalat Rawatib Shubuh.
Shalat sunnah rawatib Shubuh termasuk sunnah rawatib yang ditekankan. Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam membiasakannya serta tidak pernah meninggalkannya, baik ketika di rumah maupun ketika dalam perjalanan.
Meskipun demikian, tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu alaihi Wassalam yang menunjukkan hukum
wajibnya.
Dari Aisyah Radiallahu 'anha Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda :
"Dua rakaat sebelum Shubuh itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. (Keduanya lebih aku sukai daripada dunia secara keseluruhan). HR. Muslim.

(2) Shalat Rawatib Zhuhur.
Dari Ummu Habibah, dia bercerita, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda :
"Barangsiapa memelihara shalat empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat setelahnya, Allah akan mengharamkannya dari Neraka." (HR. At-Tarmidzi dalam kitab 'ash-Shalaah' no. 428) di nilai Shahih oleh Syaikh Al-albani.

(3) Shalat Sunnah Rawatib Ashar.
Shalat ini dikerjakan sebelum Shalat Ashar Dari Ibnu 'Umar Radiallahu 'anhu Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda :
"Allah akan mengasihi orang yang mengerjakan shalat empat rakaat sebelum Ashar. (HR. Ahmad, at-Tarmidzi, Abu Dawud, Hadits Hasan).
Hadits di atas menunjukkan disunnahkannya mengerjakan keempat rakaat sebelum Ashar, bahkan memeliharanya dengan berharap termasuk ke dalam do'a Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam.

(4) Shalat Rawatib Maghrib.
Rawatib shalat Maghrib terdiri dari dua rakaat yang dikerjakan setelah shalat Maghrib. Hal tersebut didasarkan pada nash yang telah dibicarakan di muka, yakni sebagai berikut :
Diriwayatkan dari Ummu Habibah Radiallahu 'anha, isteri Nabi Shallallahu alaihi Wassalam dia bercerita, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda :
"Tidaklah seorang hamba Muslim mengerjakan shalat karena Allah dalam satu hari dua belas rakaat sebagai tathawwu' dan bukan fardhu, melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di Surga." (HR. Muslim).

Diantara petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam adalah shalat tathawwu di rumah, kecuali berhalangan. Penekanan shalat rawatib maghrib di rumah telah diriwayatkan dari beliau.
"Kerjakanlah kedua rakaat ini di rumah kalian masing-masing." (HR. Ahmad di dalam kitab al-Musnad [V/428] dan Ibnu Khuzaimah [1200]).

(5) Shalat Rawatib Isya'
Telah disampaikan perkataan Ibnu 'Umar Radiallahu 'anhu "Aku selalu memelihara sepuluh rakaat dari Nabi,... dua rakaat setelahnya." Demikian pula hadits Ummu Habibah Radiallahu 'anha isteri Nabi Shallallahu alaihi Wassalam sebelumya dia bercerita, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda :
"Tidaklah seorang hamba Muslim mengerjakan shalat karena Allah dalam satu hari dua belas rakaat sebagai tathawwu' dan bukan fardhu, melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di Surga." (HR. Muslim).

Perhatikanlah bahwa banyak pembendaharaan kaum Muslimin yang telah banyak disia-siakan.

10 Oktober 2009

Bagaimana Bila Ajal Tiba (2)

Bagaimana kamu jika kedua matamu, kedua tanganmu, kedua kakimu, kedua telingamu, kemaluanmu dan lisanmu bersaksi atas segala yang telah kamu lakukan di dunia yang fana ini,
"Pada hari ini kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." (Yasin : 65).

"Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu." (Fushshilat :22).

Dengan apa engkau menjawab bila Tuhanmu menanyakan umurmu, untuk apa kau habiskan. Masa mudamu, untuk apa kau pergunakan. Tentang hartamu, darimana kau peroleh dan untuk apa kau pergunakan dan tentang ilmumu, untuk apa kau amalkan. Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda :
"Dua kaki seorang hamba tidak akan melangkah pada hari kiamat hingga ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya, untuk apa dihabiskan. Tentang masa mudanya, untuk apa dipergunakan. Tentang hartanya, darimana diperoleh dan untuk apa dipergunakan, dan tentang ilmunya, untuk apa diamalkan. (HR. Al-Bazar dan at-Thabrani dengan sanad shahih).

Kemudian renungkanlah, wahai saudaraku, keadaan para makhluk yang takut dengan kedahsyatan hari kiamat, mereka menanti datangnya penentuan dan menunggu munculnya yang memberi syafaat kepadanya. Orang-orang yang berdosa diselimuti ketakutan dan diperdengarkan suara yang mengerikan kepada mereka.
"Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyala-nyalanya." (Al-Furqan : 12).

Lalu keluarlah malaikat yang sangat kasar berkata,
"Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia." (Ad-Dukhon : 49). Sebagai ejekan bagi mereka.

Harapan mereka saat itu hanyalah kebinasaan dan mereka tidak akan lepas dari keganasan Jahanam. Mereka berseru seperti dalam Al-Qur'an :
"Mereka berseru, 'Hai Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.' Dia menjawab, 'Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)'." (Al-Zukhruf : 77).

Di kala itulah mereka berputus asa, dan di sisi Allah mereka memohon ampun atas segala kelalaiannya.

Saudaraku...,
Bayangkanlah keadaan mereka. Di atas mereka ada api, di bawah mereka ada api, di kanan dan kiri mereka juga api.
"Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api)." (Az-Zumar : 16).

Mereka mendambakan yang namanya kematian abadi, padahal mereka tidak bisa mati lagi.
"Dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada adzab yang berat." (Ibrahim : 17).

Mudah-mudahan tulisan yang sedikit ini bermanfaat dan menjadi amal shalih bagi kita semua. Amiin.

Bagaimana Bila Ajal Tiba (1)

Renungan kita kali ini mengenai ayat yang agung yang kadang menjadikan orang yang membacanya menjadi ketakutan. Sebuah ayat yang menceritakan tentang sebuah perjalanan.. Kepergian... Sebuah perjalanan yang berat.
Ayat tersebut adalah firman Allah Subhanallahu Wa Ta'ala, :
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Ali Imran : 185).

Wahai saudaraku..! Perjalanan ini menuju akhirat. Suatu perjalanan yang kita memohon kepada Allah agar tujuan akhirnya adalah surga, bukan neraka!.
Karena keagungan perjalanan ini, maka Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda :
"Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." (Muttafaq 'alaih).

Maksudnya jika kita mengetahui hakikat kematian dan kedahsyatannya, alam kubur dan kegelapannya, hari kiamat dan segala kesedihannya, shirath (titian) dan segala rintangannya, niscaya kita akan segera berubah!. Akan tetapi terkadang kita lupa atau pura-pura lupa dengan perjalanan tersebut dan malah memilih dunia ini yang nilainya di sisi Allah tidak lebih dari sehelai sayap nyamuk.

Ada sebuah cerita mengenai orang-orang terdahulu, seseorang diantaranya bertanya, "Maukah engkau mati sekarang?" Temannya menjawab, "Tentu tidak." Lalu ditanyakan lagi kepadanya, "Kenapa?"Jawabnya, "Saya belum bertaubat dan berbuat kebajikan." Selanjutnya dikatakan kepada orang itu, "Kerjakanlah sekarang!" Ia menjawab, "Nanti akan saya lakukan." Demikianlah ia selalu berkata, "Nanti dan nanti," sehingga akhirnya ia meninggal dunia tanpa sempat bertaubat dan melakukan perbuatan baik. Saya yakin kita tidak mau berakhir seperti itu. Jadi, lakukanlah sekarang dan jangan menunda lagi!.

Diriwayat lain suatu ketika Khalifah Harun al-Rasyid memenuhi majlisnya dengan berbagai makanan dan perhiasan, lalu beliau menghadirkan Abu al-Atahiyah (penyair ternama di masanya) dan berkata kepadanya, "Ungkapkan pada kami kenikmatan dunia yang telah kami peroleh." ia menjawab,
"Hiduplah dengan sesuka hatimu dalam naungan istana yang tinggi."
Al-Rasyid berkata, "Bagus. Lalu apa lagi?" Ia menjawab,
"Kenikmatanmu menjadikanmu berlari dihadapan pergantian siang dan malam."
Al-Rasyid berkata, "Bagus. Lalu apa lagi selanjutnya?"
"Jika nyawa telah meregang dihadapan hati yang bergetar, saat itu kamu akan tahu dengan pasti bahwa selama ini kamu terperdaya."
Lalu menangislah Khalifah Harun al-Rasyid. Salah seorang pejabatnya berkata kepada Abu al-Atahiyah, "Engkau dipanggil kesini oleh Amirul Mukminin untuk menghibur hatinya, akan tetapi engkau menjadikannya sedih." Harun al-Rasyid berkata, "Biarkanlah ia, sesungguhnya ia melihat kita dalam kebutaan, dan ia tidak ingin kita semakin buta."

Benar saudaraku, cukuplah kematian sebagai nasehat, cukuplah kematian menjadikan hati bersedih, mata menangis, pemutus segala cita-cita hidu di dunia.

Bayangkanlah !!, apabila engkau dimasukan ke dalam kubur dengan diangkat di atas pundak, setelah sebelumnya engkau menjadi orang yang mengantarkan jenazah atau berziarah kubur. Di saat itu, apa kata jenazahmu, akankah mengucapkan, "Cepat-cepat...!" ataukah akan mengucapkan, "Hai, kemana kalian akan membawaku?. (HR. Al-Bukhori).

Kemudian engkau dimasukkan ke dalam kuburmu oleh orang yang paling engkau cintai dan keluarga yang paling dekat denganmu. Mereka meletakanmu di dalam lubang bumi, dan menutupi liang lahatmu hingga cahaya tidak dapat menyinarimu. Kemudian mereka menimbun kuburanmu dengan tanah, salah seorang diantara mereka berkata "Mintakan ampunan untuk saudaramu ini dan mintakan ketetapan iman, karena sekarang ia sedang ditanya."
kemudian mereka meninggalkanmu sendirian dalam kegelapan. Di atas, di bawah, di kanan dan kirimu hanyalah tanah, kemudian ruhmu dikembalikan pada jasadmu. Dan datanglah kepadamu dua malaikat yang biru kehitam-hitaman. Lalu bertanya kepadamu, "Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? Maka dengan apa kamu menjawabnya?
Jika di saat mati engkau telah bertaubat, jujur dan beriman, maka Allah akan menetapk
an imanmu pada saat itu.
Allah berfirman :
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang zhalim dam memperbuat apa yang Dia kehendaki." (Ibrahim : 27).

Coba perhatikan, apa yang telah engkau persiapkan untuk menjadikan kuburanmu sebagai taman surga? Keadaan bagaimana yang kamu inginkan saat Allah berfirman :
"Pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur). (Qaaf : 41-42).

Keadaan yang bagaimana yang kamu inginkan di saat,
"(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam." (Al-Muthaffifin : 6).

09 Oktober 2009

Wajibnya Mengikuti Jalan Sahabat.

Allah Subhanallahu wa Ta'ala berfirman :
artinya : "Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku." (QS. Luqman : 15).

Ibnu al-Qayyim berkata, 'Seluruh sahabat kembali kepada Allah, maka wajib mengikuti jalannya, ucapan-ucapan dan keyakina-keyakinannya yang merupakan seutama-utama jalannya.

Adapun dalil yang menunjukkan mereka kembali kepada Allah ialah bahwasanya Allah Subhanallahu wa Ta'ala berfirman :
"Dan (Allah) memberi petunjuk (kepada agama-Nya) orang yang kembali (kepada-Nya)." (QS. Asy-Syura : 13).

Sungguh Allah telah ridha kepada para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah Subhanallahu wa Ta'ala berfirman :
"Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah : 100).

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pun memuji mereka dengan pujian yang indah baik secara individu maupun jamaah. Para imam kaum Muslimin pun sangat memperhatikan keutamaan dan kemuliaan mereka, sehingga mereka menuliskan keutamaan dan keistimewaan para sahabat dalam karya-karya mereka, bahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam melarang mencerca sahabat, beliau bersabda :
"Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka tidak akan sebanding dengan infak satu mud salah seorang di antara mereka dan tidak pula setengahnya." (Muttafaq 'alaih).

Rasulullah pun menjelaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah generasinya kemudian orang-orang setelahnya.

Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam bersabda :
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya." (HR. Al-Bukhorh dalam Shahihnya).

Dan Nabi memerintahkan untuk mengikuti sunnahnya, dan sunnah para khalifahnya yang rasyidin dan memperingatkan jangan menyelisihinya. Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam :
"Wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapatkan hidayah sesudahku. Pegang teguh sunnah tersebut dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hati kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dan hadits ini shahih).

08 Oktober 2009

Kedudukan Seseorang Yang Mendapati Akhir Rakaat Dalam Shalat Jama'ah.

Oleh : Syaikh Nashiruddin Al-albani.

Pertanyaan :
Seseorang mendapati jamaah Isya' pada akhir rakaat. Kemudian ia menyempurnakan kekurangannya yang tiga rakaat. Apakah yang tiga rakaat ini disebut melengkapi kekurangan atau disebut qadha'? Dan apakah bacaan ketika berdiri pada rakaat yang tertinggal itu dibaca secara jahar (keras)?

Jawab :
Ulama dalam masalah ini, terbagi dalam dua pendapat :
Pendapat pertama :
bahwa masbuq (orang yang ketinggalan shalat jamaah), ketika dia menyempurnakan kekurangan shalatnya berarti ia meng-qadha' (mengulangi) rakaat yang terluput, dan yang ia qadha' itu, dianggap sebagai awal shalatnya (rakaat pertama, kedua, dst.), ini adalah mazhab Hanafiyah (pengikut Abu Hanifah).

Pendapat kedua :
Bahwa yang didapati oleh seorang masbuq bersama imam adalah awal shalatnya, sedangkan sisa rakaat berikutnya (bukan rakaat pertama, kedua, dst).

Sebab perselisihan ini adalah adanya dua riwayat yang telah cukup terkenal :
"Apa yang kalian dapatkan bersama imam, lakukanlah bersama iman. Sedangkan sisanya harus kalian sempurnakan."

Dan dalam riwayat lain :
"...sedangkan sisanya, harus kalian qadha"
.

Kami tidak ragu bahwa pendapat kedua yang merupakan mazhab Imam Asy SyafĂ­'i adalah pendapat yang benar. Karena tidak ada perbedaan antara dua riwayat tersebut dari segi makna kalimat "..sedangkan sisanya harus kalian qadha, secara bahasa artinya adalah : "Harus kalian sempurnakan (tunaikan) qadha."

Mazhab Hanafiyah menafsirkan kalimat : "Harus kalian qadha'!", dengan pemahaman qadha secara istilah. Padahal dalam bahasa Arab : "Harus kalian qadha'" mempunyai makna "Harus kalian sempurnakan (tunaikan)."

Dan makna ini semakin jelas jika kita merujuk beberapa ayat Al-Qur'an misalnya :
"Dan jika telah diqadha' (ditunaikan) shalat, bertebaranlah di muka bumi." (Al-Jumu'ah, : 10).

Tak ada seorang pun yang memahami arti qadha dalam ayat ini dengan qadha secara istilah fikih (menunaikan suatu kewajiban di luar waktu yang telah ditentukan) jadi arti qadha di sini adalah menunaikan/menyempurnakan.

Demikian pula firman Allah :
"Maka jika kalian telah meng-qadha' manasik-manasik kalian." (QS. Al-Baqarah : 200).

Makna meng-qadha' manasik-manasik kalian yang menyempurkan manasik-manasik kalian.

Adapun pertanyaan kedua dapat dipahami dari penjelasan di atas, maka kami jawab : bahwa masbuq ketinggalan tiga rakaat, maka ia harus menambah satu rakaat kemudian ber-tasyahhud awal, kemudian ia tambahkan dua rakaat lagi tanpa menjaharkan bacaan, dan tidak membaca apa apa setelah membaca Al Fatihah dalam dua rakaat terakhir tersebut.
[Di ambil dari kumpulan Fatwa-fatwa Syaikh Nashiruddin Al-albani].

07 Oktober 2009

Hukum Mengeraskan Bacaan Dzikir Setelah Shalat.

Oleh : Syaikh Nashiruddin Al-albani

Pertanyaan :
Bagaimanakah hukum mengeraskan bacaan dzikir setelah shalat?

Jawab :
Disebutkan dalam sebuah Hadits yang tercantum dalam kitab Al Bukhori dan Muslim, Ibnu Abbas berkata:
"Dahulu pada masa nabi masih hidup, kami mengetahui bahwa shalat telah selesai didirikan dari suara dzikir yang keras."

Akan tetapi sebahagian ulama mengomentari dengan teliti maksud ucapan Ibnu Abbas tersebut, mereka berkesimpulan bahwa kata (kami dahulu), mengandung isyarat halus bahwa perkara ini tidaklah berlangsung secara terus-menerus.

Dalam kitab Al Umm, Imam Asy-Syafi'i menjelaskan bahwa maksud Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam mengeraskan bacaan dzikir setelah shalat adalah untuk mengajarkan dzikir itu kepada orang-orang yang belum bisa melafazhkannya. Dan jika amalan tersebut dimaksudkan hanya untuk pengajaran saja, maka biasanya tidak dilakukan secara terus-menerus.

Ada sebuah hadits di dalam Shahihain dari Abu Qatadah Al-Anshari bahwa Nabi dahulu terkadang memperdengarkan kepada para sahabat bacaan ayat Al-Qur'an di dalam shalat Dzuhur dan Ashar, dan Umar juga melakukan sunnah ini.

Imam Asy Syafi'i menyimpulkan berdasarkan sanad yang shahih bahwa Umar pernah menjaharkan doa iftitah untuk mengajari makmum, yang menyebabkan Imam Asy Syafi'i, Ibnu Taimiyyah dan lain-lain berkesimpulan bahwa hadits di atas mengandung maksud pengajaran.
Banyak sekali hadits-hadits shahih yang melarang berdzikir dengan suara keras.

Sebagaimana hadits Abu Musa berkata :
Jika kami menuruni lembah kami bertasbih dan jika kami mendaki tempat yang tinggi maka kami bertakbir.

Dan kami pun mengeraskan suara-suara dzikir kami. Maka Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam bersabda:
"Wahai sekalian manusia, berlaku baiklah kepada diri kalian sendiri. Sesungguhnya yang kalian seru itu tidaklah tuli dan tidak pula ghaib Sesungguhnya kalian berdoa kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, yang lebih dekat kepada kalian daripada leher tunggangan kalian sendiri."

Kejadian ini berlangsung di padang pasir yang tidak mungkin mengganggu siapa pun. Lalu bagaimana pendapatmu, jika mengeraskan dzikir itu di dalam masjid yang tentu mengganggu orang yang sedang membaca Al-Qur'an, orang yang masbuq dan lain-lain.

Jadi dengan alasan mengganggu orang lain inilah kita dilarang mengeraskan suara dzikir.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam :
"Wahai sekalian manusia, masing-masing kalian bermunajat (berbisik-bisik) kepada Rabb kalian, maka janganlah sebagian kalian menjaharkan bacaannya dengan mengganggu sebagian yang lain."
Al Baghawi menambahkan dengan sanad yang kuat :
"Sehingga mengganggu kaum mukminin (yang sedang bermunajat)."

Untuk lebih jelasnya silakan merujuk buku Fatwa-fatwa Syaikh Nashiruddin Al-albani (Media Hidayah).

Mengirim Pahala Untuk Orang Yang Sudah Meninggal

Oleh : Syaikh Nashiruddin Al-albani.

Pertanyaan :
Bolehkah menyembelih atas nama orang yang sudah meninggal, baik ia berwasiat ataupun tidak? Dan apakah ibadah-ibadah lain seperti shalat, puasa, dan membaca Al-Qur'an bisa dipersembahkan untuknya?

Jawab :
Jika seseorang meninggal lalu berwasiat agar (orang yang ditinggalkan) menyembelih atau beribadah atas namanya, maka wasiat ini wajib dilaksanakan karena hal ini merupakan ketaatan kepada Allah dan sesuai dengan syariat-Nya.

Adapun jika ia tidak berwasiat, maka harus dilihat siapa yang melaksanakan penyembelihan dan sedekah tersebut. Jika orang itu adalah anaknya maka hal ini dibolehkan dan amalannya diterima, karena anak merupakan hasil usaha orang tuanya, dan masuk dalam keumuman firman Allah Subhanallahu wa Ta'ala :
"Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm : 39).

Dan sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam :
"Jika seorang anak Adam meninggal dunia, terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya."

Maka orang yang sudah meninggal tidak berhak lagi atas amal shalih kecuali jika salah satu dari ketiga perkara di atas masih ada.
Jika seorang anak beribadah dan beramal shalih setelah kematian ayahnya maka amalan anak ini masih merupakan bagian dari keumuman ayat tadi dan keumuman sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam:
"Sebaik-baik usaha adalah usaha seorang dari tangannya sendiri, dan sesungguhnya anak-anak kalian adalah termasuk usaha kalian."

Jadi, amal shalih yang dilakukan oleh seorang anak berada dalam lembaran amal shalih kedua orang tuanya, terutama apabila sang anak memang meniatkan amalnya itu untuk kedua orang tuanya.

Adapun selain anak, maka tidak ada ikatan yang membolehkan seseorang mengirim pahalanya kepada orang yang sudah meninggal.

06 Oktober 2009

Bakti Kepada Kedua Orang Tua

Berbakti kepada orang tua adalah sebuah kewajiban yang sangat luhur dan mulia. Allah Subhanallahu wa Ta'ala seringkali menyandingkan perintah berbakti pada orang tua dengan perintah mengesakan-Nya.

Abdullah bin Mas'ud Radiallahu 'anhu pernah bertanya kepada Rasullullah Shallallahu 'alaihi wa salam :
"Amalan apa yang paling utama? Beliau menjawab, "mengerjakan shalat tepat pada waktunya. "Aku bertanya lagi, "Kemudian apalagi? "Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua." Lalu aku bertanya lagi, "Kemudian apalagi?" Beliau menjawab, "Jihad fi sabilillah." (Muttafaqun 'alaihi).

Dan berbakti kepada orang tua merupakan jalan Jannah.
Abu Darda' Radiallahu 'anhu berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
"Orang tua adalah bagian tengah pintu Jannah. Jika engkau mau silakan menyia-nyiakannya, jika tidak maka jagalah pintu itu." (HR. Tarmidzi).Dishahihkan oleh Al-albany dalam kitab Shahih Sunan At-tirmidzi no 1900.

Salah satu bukti berbakti kita pada kedua orang tua adalah dengan mendo'akan dan memohon ampunan bagi keduanya.
Sesungguhnya kedua orang tua kita sangat mengharapkan doa dan istighfar kita untuk mereka, terlebih lagi bila keduanya sudah tiada.

Abu Hurairah Radiallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
"Sesungguhnya seorang lelaki terangkat derajatnya di Jannah, ia berkata: "Darimanakah ini ku peroleh? "Dikatakan kepadanya: "Dari istighfar anakmu untuk dirimu." (HR. Ibnu Majah[3660] dan Imam Ahmad dalam Musnadnya [8540]) Shahih oleh Al-albany dalam silsilah Ahaadiits Shahihah [1598].

Saudaraku, apa beratnya mendoakan kedua orang tua kita? Sesibuk apapun diri kita, tentu kita tidak akan lupa asal usul diri kita! Maka mohonkanlah ampunan untuk kedua orang tua kita, sebagaimana Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda:
"Apabila seorang anak Adam mati maka terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga perkara: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang selalu mendoakannya." (HR. Muslim) dari Abu Hurairah Radiallahu 'anhu [1631).

Setiap orang tentu menginginkan bisa berkumpul dengan orang-orang yang dicintainya di dalam Surga. Kita semua tentu mengharapkannya. Bisa kita bayangkan betapa bahagia kita bisa berkumpul bersama kedua orang tua kita di dunia ini, dan kebahagiaan akan semakin lengkap apabila kita dapat berkumpul dengan mereka di Surga. Keinginan itu bukanlah suatu perkara mustahil.
Allah berfirman dalam kitab-Nya:
"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. Ath-Thuur:21).

Dalam ayat ini Allah mengabarkan tentang karunia, anugerah dan kasih sayang-Nya kepada semua makhluk-Nya, bahwa orang mukmin akan dipertemukan dengan orang tua mereka di Jannah kelak.

Wahai Saudaraku Camkanlah! Dan dengarkanlah baik-baik serta renungkanlah kemudian amalkanlah petunjuk Rasulullah yang telah mengkhabarkan kepada umatnya untuk berdo'a pada waktu yang sangat dianjurkan berdoa untuk kedua orang tua kita, diantaranya adalah:
(1) Antara Adzan dan iqamah.
"Doa yang tidak tertolak adalah doa yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah." (HR. Abu Dawud, Shohih oleh Al-albany).

(2) Dari Abu Umamah Al-Baahili, ia berkata: "Dikatakan, ya Rasulullah, doa mana yang paling di dengar? Beliau menjawab:
"Pada akhir malam dan akhir shalat fardhu." (HR. At-Tirmidzi, Hadits Hasan no. 3566).

(3) "Tiga doa yang tidak akan tertolak, Doa seorang bapak untuk anaknya, doa orang yang sedang berpuasa dan doa seorang musafir." (Shahih Jaami' Ash-Shaghiir 3032).

(4) "Dua doa yang tidak akan tertolak, berdoa ketika adzan berkumandang dan di saat hujan turun." (Shahih Jaami' Ash-Shaghiir 3078).

(5) "Sesungguhnya pada setiap malam ada satu waktu, bilamana seorang hamba muslim memanjatkan doa meminta kepada Allah kebaikan dari urusan dunia dan akhiratnya dan bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan Allah pasti memberikannya kepadanya dan hal itu berlaku setiap malam." (HR. Muslim no. 757 dari Jabir bin Abdillah Radiallahu 'anhu).
Untuk lebih jelasnya silakan merujuk kepada buku "Doa Anak Shalih Kepada Orang Tua karya Abu Ihsan Al-Atsari".

Semoga amal yang sedikit ini menjadi Amal yang bermanfaat dan mudah-mudahan Allah memberikan jalan kepada kita seperti jalannya para Sahabat Radiallahu 'anhu yang mulia. Amin Ya Robbal 'alamin.

Pakaian Seorang Muslim

Dari Ibnu Umar Radiallahu 'anhu, beliau berkata, "Aku melewati Rasullullah Shalallahu alaihi wasalam sedangkan sarungku terjurai. Beliau lantas bersabda, 'Wahai 'Abdullah, tinggikan sarungmu!' setelah kutinggikan, beliau masih bersabda, 'Tinggikan lagi! 'Semenjak itu kujaga agar kainku pada batas itu." Ada sebagian orang bertanya, "Seberapa tingginya?" "Sampai pertengahan betis," Jawab Ibnu Umar. (HR. Muslim).

Wahai saudaraku! renungkanlah apa yang telah disabdakan oleh Rasullullah Shalallahu alaihi wassalam bahwa beliau juga bersabda,
"Barangsiapa menyeret kainnya karena sombong maka Allah tidak akan memandangnya pada hari kiamat." (HR. Bukhori).

Banyak orang yang berkata dan berfikiran tidak mengapa menjuraikan kain sampai di bawah mata kaki asalkan tidak sombong. Maka jawablah dengan hadits Rasullullah Shalallahu alaihi wasalam,
"Berhati-hatilah terhadap isbal (pakaian yang menutup mata kaki) karena hal itu termasuk kesombongan." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dengan isnad Shohih).

Wahai saudaraku! Kita sebagai seorang muslim wajib mendahulukan sabda Nabi daripada perkataan manusia seluruh penjuru dunia ini, mengikuti perintahnya, serta menjauhi larangannya, dan membenarkan ucapan yang beliau sampaikan, baik dalam masalah kecil maupun besar. Dengan itulah kita merealisasikan persaksian bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Sebagaimana di dalam Al-qur'an nan mulia,
Allah berfirman,
"Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah. Takutlah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras siksa-Nya." (QS. Al-Hasyr:7).

Di lain ayat Allah juga berfirman:
"Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal didalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan." (QS. An-Nisa:14).

Apakah orang yang menjalankan perintah bisa di sebut ORANG YANG DURHAkA?, dan apakah orang yang tidak mentaati Allah dan Rasul-Nya bisa di sebut dengan ORANG YANG TAAT?. pastilah tidak demikian.

Islam merupakan sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Kebenaran tidak boleh disembunyikan, banyak perkara yang dianggap remeh oleh orang banyak padahal itu merupakan hal yang penting dalam pandangan syariat.

Allah berfirman:
"Kalian menyangka remeh, padahal hal tersebut dalam pandangan Allah adalah perkara penting." (QS. An-Nur:15).

Diantara Dalil-dalil yang mencela Isbal adalah:

(1) Rasullullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda,
"Ada tiga golongan manusia yang tidak Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak Dia pandang, tidak Dia sucikan, dan bagi mereka siksa yang pedih. Mereka adalah orang yang MENGISBAL PAKAIAN (PAKAIAN DI BAWAH MATA KAKI), Orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian, dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu." (HR. Muslim).

Yang di maksud tidak dipandang oleh Allah adalah Allah tidak menyayanginya dan Allah tidak memandangnya dengan penuh kasih sayang.

(2) "Kain yang berada di bawah kedua mata kaki berada dalam neraka."(HR. Abu Dawud, Shohih).

(3) "Kain seorang mukmin hingga otot betis, kemudian separo betis, kemudian hingga ka'bain (dua mata kaki). Kain yang ada di bawah itu berada dalam neraka." (HR. Ahmad 2/255, Shohih).

(4) "Orang yang shalat dalam keadaan isbal tidaklah dalam keadaan yang dihalalkan dan tidak pula dalam keadaan yang diharamkan Allah." (HR. Abu Dawud, Shohih).

Banyak dalil yang mencela isbal dan mengancam akan berada dalam api neraka bagi pelakunya.. Lantas bagaimana dengan pakaian wanita?

Umi Salamah bertanya, Apa yang harus diperbuat wanita terhadap ujung pakaian mereka? beliau Rasullullah Shalallahu alaihi wasalam bersabda, "Hendaklah mereka lebihkan sejengkal!" Umi Salamah bertanya, "Jika demikian telapak kaki mereka masih terlihat?" Beliau bersabda, "Hendaklah mereka panjangkan satu hasta, tetapi tidak boleh lebih dari itu." (HR. Tirmidzi, Shohih).

Hal ini mereka lakukan tatkala keluar rumah. Rasullullah Shalallahu alaihi wasalam ditanya tentang seorang wanita yang menyeret ujung pakaiannya di tempat kotor? Beliau bersabda,
"(Debu) yang setelahnya yang akan menyucikannya."

Demikianlah sabda Nabi yang ia tinggalkan kepada kita untuk jadi pedoman hidup agar kita tidak tersesat selama-lamanya.

Sebagaimana hadits berikut:
"Aku tinggalkan di tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan sesat sepeninggalku, yaitu Kitabullah dan Sunnahku." (HR. Iman Malik dalam al-Muwattha, Abu Dawud dan Ibnu Majah, Hadits Shohih).

05 Oktober 2009

Keutamaan Istighfar

(1) Sebab Turunnya Rizki.
Istighfar adalah di antara sebab rizki yang paling penting dan paling besar berkat anugerah Allah.

Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia,
"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. [jika kamu mengerjakan yang demikian], nis
caya dia akan memberi kenikmatan yang baik [terus menerus] kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan". (QS. Hud:3).

Dalam ayat yang mulia ini, terdapat janji Allah berupa nikmat yang baik bagi orang yang beristighfar dan bertaubat. Ibnu Abbas berkata Maksud dari 'memberi kenikmatan yang baik' adalah Allah memberi kalian rizki dan kelapangan. (lihat al-Ma'ani, 29/27).

Di dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam-bersabda:
"Barangsiapa memperbanyak istighfar niscaya Allah membuatkan baginya dari setiap kesusahan ada jalan keluar, dari setiap kesempitan ada jalan penyelesaian, serta memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka". (HR. Ahmad) lafaz ini miliknya Ibnu Majah, dan al-Hakim dalam al-Mustadarak dan sanadnya Shohih.

Di dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam mengabarkan tiga faedah yang dapat dipetik oleh orang yang banyak beristighfar, salah satunya adalah rizki dari arah yang tidak disangka.

(2)Termasuk Ahli Surga.
Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam dalam hadits Syadad bin Aus Radiallahu 'anhu:
"Sayyid (penghulu) istighfar adalah ucapan (do'a) hamba, 'Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tiada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Engkaulah yang telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku setia di atas perjanjian-Mu dan janjiku kepada-Mu sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku serta aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.'

Barangsiapa membacanya di pagi hari dengan penuh keyakinan lalu mati pada hari itu sebelum memasuki sore maka dia termasuk ahli surga. Dan barangsiapa membacanya di petang hari dengan penuh keyakinan lalu mati sebelum memasuki waktu Shubuh maka dia termasuk ahli surga." (HR. Al-Bukhoriy).

(3) Dihapuskannya Dosa.
Diantara ayat-ayat yang menunjukkan kemurahan Allah mengampuni dosa dan memaafkan kesalahan hambanya adalah firman-Nya:
"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nisa':110).

Dari Anas Radiallahu anhu beliau berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam-bersabda, Allah berfirman:
"Hai anak Adam, selama kamu memohon dan mengharap kepada-Ku, Aku akan memberimu ampunan terhadap semua dosamu dan aku tidak ambil peduli. Hai anak Adam! andai dosa-dosamu seluas langit kemudian kamu memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak ambil peduli." (HR. At-Tarmidzi) dan berkata hadits Hasan.

Lihatlah dan dengarlah wahai orang yang mau mengambil pelajaran, betapa besar nikmat, kemurahan dan karunia Allah kepada anak Adam, pantaskah kita mengambil sesembahan selain Allah. Maha Suci Allah tiada Tuhan selain Allah.

(4) Diangkatnya Derajat Setelah Kematian.
Istighfar bermanfaat bagi manusia di dunia, maupun di akhirat karena istighfar menjadi sebab diangkatnya derajat manusia di Surga. Dari Abu Hurairah Radiallahu'anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam-bersabda:
"Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang hamba yang shalih di Surga sehingga dia bertanya, 'Wahai Rabbku, dari mana nikmat ini hamba terima?' Allah berfirman, 'karena istighfar anakmu untukmu'." (HR. Ahmad) dengan sanad Shohih.
Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa Allah menjadikan anak shalih bermanfaat bagi kedua orangtuanya di dunia dan di akhirat, sesuai sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Jika anak Adam telah meninggal, maka amalnya akan terputus, kecuali tiga: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shalih yang mendo'akannya." (HR. Muslim).

(5) Sebab Memperoleh Anak.
Ini kabar gembira bagi orang yang menginginkan anak dan keturunan yang shalih. Dalilnya adalah firman Allah Subhanallahu wa Ta'ala :
"Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) sungai-sungai untukmu." (Nuh:10-12).

04 Oktober 2009

Keutamaan Shadaqah

Krisis demi krisis, musibah demi musibah melanda datang silih berganti tanpa mengenal siapapun, kapanpun dan dimanapun untuk menguji kaum muslimin di negeri kita ini.
Kejadian-kejadian dan musibah seperti ini, terkadang bikin kita meringis dan berpikir ada apa gerangan semua ini terjadi.
Allah Subhanallahu wa Ta'ala memberikan kita solusi untuk menghadapi semua musibah ini dengan introspeksi / muhasabah, peduli terhadap sesama dengan memberikan bantuan atau shadaqah dengan ikhlas kepada orang yang sangat membutuhkan sehingga kita menjadi hamba yang selalu dekat kepada Allah.

Allah memberikan kabar gembira kepada hamba-Nya lewat firman-Nya maupun Rasul-Nya bahwa pahala shadaqah sangat dibutuhkan pada hari kiamat kelak.

Diantara keutamaan shadaqah :
(1) Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik(menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." (QS.Al-Baqarah:245).

(2) Pelindung Di Padang Mahsyar.
Manusia di padang mahsyar sibuk dengan urusannya masing-masing. Matahari didekatkan, pada saat itulah seseorang memerlukan pahala shadaqah yang bisa menaungi mereka.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam-bersabda,
"Setiap orang berada dalam naungan shadaqahnya hingga diputuskan perkara di antara manusia".(HR.Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim). Shohih oleh Al-Albany dalam At-Targhib wa At-Tarhib(872).

(3) Pemadam Panas Di Alam Kubur.
Seorang mukmin yang telah mati dia akan mendambakan kuburnya termasuk taman dari taman-taman surga serta jauh dari panasnya api neraka. Sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
"Sesungguhnya shadaqah akan memadamkan panasnya kubur bagi pemilik shadaqah". (HR. Al-Baihaqiy). Hadits Hasan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (3484).

(4) Dido'akan Oleh Malaikat
.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam-bersabda:
"Tak ada suatu hari pun seorang hamba berada didalamnya, kecuali ada dua orang malaikat akan turun; seorang diantaranya berdo'a, (Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang berinfak) yang lainnya berdo'a,(Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan infak)". (HR. Al-Bukhoriy dan Muslim).

(5) Menghapus Kesalahan
.
Dari Mu'adz bin Jabal Radiallahuanhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam-bersabda:
"Sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api".(Shohih At-Tarmidzi).

(6) Perisai Dari Api Neraka
.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam-bersabda:
"Hendaknya salah seorang diantara kalian melindungi wajahnya dari neraka, sekalipun dengan sebelah biji korma". [HR. Ahmad. Shohih oleh Al-Albani dalam Shohih At-Targhib(864)].

(7) Termasuk Tujuh Golongan Yang Dinaungi Oleh Allah.
Padang mahsyar merupakan tempat pengadilan Allah kepada makhluk-Nya baik berupa hak-hak Allah atas hamba-hamba-Nya maupun hak kepada sesama makhluk.
Pada hari itu semua makhluk tunduk dan pasrah terhadap putusan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sebagaimana firman-Nya:
"Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar". (QS. An-Naba:38).

Di lain ayat Allah Subhanallahu wa Ta'ala juga berfirman:
"Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan". (QS.Al-Jatsiyah:28).

Pada waktu itu matahari didekatkan sedekat-dekatnya, keringat bercucuran menunggu putusan yang maha dahsyat. pada waktu itu juga para hamba berharap dengan penuh harap adanya perlindungan dan naungan Allah Subhanallahu wa Ta'ala.

Diantara golongan yang mendapat naungan saat itu, yaitu orang yang ikhlas bershadaqah di dalam hatinya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam-bersabda:
"Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari kiamat yang mana tidak ada naungan selain naungan Allah... .seseorang yang bershadaqah dengan suatu shadaqah yang ia rahasiakan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa-apa yang telah dishadaqahkan oleh tangan kanannya". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (629), Muslim dalam Shohih-nya (1032)].

(8) Memadamkan Amarah Allah Dan Menghindarkan Diri Dari Kematian Yang Buruk
.
Shadaqah memiliki dampak terhadap pelakunya dalam memelihara diri dari musibah-musibah dan bencana-bencana, dari Abu Umamah Radiallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Perbuatan-perbuatan baik akan menghindarkan diri dari pintu-pintu keburukan, shadaqah yang tersembunyi itu akan memadamkan amarah Allah, dan menyambung silaturrahim akan menambah umur". (HR.At-Thabrani dalam al-kabir, isnadnya hasan, lihat Shohih al-Jami' hal 3797.
Ibnu Abi al-Ja'd berkata, "Sesungguhnya shadaqah itu menghindarkan diri dari tujuh puluh pintu keburukan dan memelihara dari kematian yang buruk.

Dari Anas bin Malik Radiallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam-bersabda:
"Sesungguhnya shadaqah itu dapat memadamkan amarah Allah dan menghindarkan diri dari kematian yang buruk".

Hakikat dari kematian buruk yaitu kematian dalam kondisi kemaksiatan, baik tergoda dari syetan saat sekaratul maut, terbunuh saat lari dari medan perang dan lainny semoga Allah melindungi kita darinya
amiin.